Archive for the 'BEM FAPERTA IPB' Category

[[PRESS RELEASE KUNJUNGAN dari SENAT BSI CENGKARENG]]

Akhir pekan ini, 24 Desember 2016 BEM Fakultas Pertanian dikunjungi oleh dua perwakilan dari Senat BSI Cengkareng. Mereka adalah Dayat dan Ali yang merupakan Senat dari Departemen Politik dan Sosial. Salah satu tujuan mereka melakukan kunjungan ini adalah untuk sharing berbagai macam tanaman yang dapat dikembangkan dan ditanam di desa binaan BSI.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Cikabayan atas, melihat berbagai macam komoditas perkebunan seperti kopi, kakao dan kelapa sawit. Selanjutnya menuju lokasi persemaian permanen yang berisi berbagai macam jenis sayuran mulai dari kangkung, bayam, cabai dan masih banyak komoditas lainnya. Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah kebun ADS yang lokasinya berada dibelakang IPB. ADS merupakan tempat penelitian non-profit yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian didaerahnya agar mencapai ekspor. Hal itu sangat baik sesuai dengan tujuan kunjungan ini, Dayat dan Ali jadi lebih paham bagaimana memperkenalkan komoditas yang sesuai dengan desa binaannya.

kunjungan-senat-bsi_161225_0011kunjungan-senat-bsi_161225_0009kunjungan-senat-bsi_161225_0008kunjungan-senat-bsi_161225_0007kunjungan-senat-bsi_161225_0005kunjungan-senat-bsi_161225_0002

PRESS RELEASE KANOPI (Kajian Online Pertanian Indonesia) KE-1

Kajian Online Pertanian Indonesia (KANOPI) merupakan salah satu program kerja Ikatan BEM Pertanian Indonesia (IBEMPI) yang bekerja sama dengan BEM Fakultas Pertanian IPB. Kajian online ini diikuti oleh mahasiswa dan masyarakat umum sebanyak 256 orang dari seluruh Indonesia yang merepresentasikan potret pertanian Indonesia. Tujuan kegiatan ini adalah mengetahui sejauh mana tingkat kepedulian masyarakat dan mahasiswa umum terhadap kondisi pertanian Indonesia, serta memberikan gambaran bahwa di luar yang kita pikirkan, masyarakat asing sudah mengintai lahan subur pertanian Indonesia. Kajian online kali ini di adakan dengan menggunakan aplikasi chatting Whatsapp. Panitia dari kajian ini terdiri dari mahasiswa Institut Pertanian Bogor yaitu Engge Mustamei selaku moderator, Imam Fauzi Tanjung, Fahmi Muhammad, Sri Riski Maryani, Aprizal, Hilman Kurniawan, dan Bimo. Pemateri pada kajian kali ini ialah Bapak Prima Gandhi SP, M.Si yang merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Kajian diadakan pada hari Senin, 12 Desember 2016 pukul 19.30 sampai 23.30 WIB dan dibuka dengan pembacaan basmalah oleh moderator. Selanjutnya kajian dimulai dengan membaca artikel yang dibuat oleh Divisi Kajian Strategis BEM Faperta IPB dengan jeda waktu pembacaan artikel selama 5 menit. Acara dilanjutkan dengan sharing mengenai masalah pertanian yang ada di daerah masing-masing peserta diskusi serta menanggapi berbagai cerita yang telah dipaparkan oleh peserta diskusi lainnya.

Cerita peserta diskusi beraneka macam, dimulai dari maraknya alih fungsi lahan yang terjadi, seperti menjadi pertambangan liar, menjadi bandara, menjadi agroekosistem monokultur, dan permasalahan bibit yang mahal. Permasalahan lain yang marak dibicarakan adalah mengenai beralihnya para petani menjadi pekerja buruh di perusahaan asing.

Penyampaian materi oleh Bapak Prima Gandhi SP. M.Si, memaparkan mengenai terusiknya kedaulatan Indonesia baik dari luar maupun dari dalam. Dari luar, kedaulatan Indonesia terusik akibat masuknya petani asing ke Indonesia sementara dari dalam terusiknya kedaulatan berupa makin sedikitnya lahan pertanian dan alih fungsi besar-besaran yang terjadi di Indonesia. Riset dari pemateri mengatakan bahwa negara ini masih belum berpihak pada petani dan rakyat kecil sehingga dibutuhkan pergerakan mahasiswa yang massif, terstruktur, dan progresif untuk mempertanyakan kehadiran negara dalam dunia pertanian. Regenerasi petani yang terus menurun sejalan dengan menurunnya jumlah mahasiswa pertanian dan penguasaan sektor pertanian baik sektor hulu maupun hilir yang kini dipegang oleh korporasi asing juga turut serta dalam menambah permasalahan pertanian yang ada di negeri ini.

Usai pemaparan materi, dibuka sesi tanya jawab antara peserta diskusi dan pemateri. Peserta terlihat sangat antusias mengikuti sesi tanya-jawab ini. Peserta mempertanyakan cara mengatasi komoditas pangan yang sekarang dikuasai oleh korporasi asing. Pemateri mengatakan bahwa cara konkrit dalam mengatasi masalah ini ialah membeli dan mengonsumi pangan dari petani, kurangi konsumsi produk pangan korporasi asing dengan menanam tanaman, serta kampanye secara masif untuk memakan produk pangan petani di kampus. Selain itu dapat dilakukan dengan meminta pemerintah mengurangi izin korporasi di bidang pangan yang menguasai hajat hidup orang banyak, ke DPR, Kemendag, Kementan, Kemenperindustrian. Pertanyaan lain yang diajukan ialah mengenai perlunya mengadakan aksi turun jalan untuk menekan pemerintah yang selama ini masih tidak bisa mendukung petani Indonesia. Pemateri mengatakan bahwa aksi turun jalan adalah langkah terakhir bila audiensi tidak diterima oleh penguasa, atau penguasa tuli dengan masukan dari rakyatnya.

Maraknya alih fungsi lahan menjadi materi yang juga dibahas dalam diskusi kali ini. Banyaknya praktek alih fungsi lahan yang melanggar Undang-Undang Lahan Abadi seharusnya menjadi konsentrasi pemerintah dalam mencari upaya penyelesaiannya. Selain itu pembahasan mengenai ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan juga menjadi focus pembahasan. Pemateri menegaskan bahwa tiga aspek tersebut harus bergerak searah dan serentak. Jika negara ini ingin berdaulat, kemandirian adalah aspek utama. Kita perlu berdaulat. Sebab, jika kita hanya mengandalkan ketahanan pangan, kita bisa dengan mudah diatur oleh negara lain. Mengentaskan tantangan terbesar negeri ini mengenai kapitalisme dan pengkhianat dari bangsa kita sendiri membutuhkan kesepakatan dan keserentakan langkah kita bersama dengan gerakan sosial yang masif.

Antusiasme peserta diskusi terlihat dari banyaknya pertanyaan yang ingin diajukan kepada pemateri. meskipun pada awalnya banyak pertanyaan yang keluar dari topik, namun diskusi tetap berjalan lancar. Hanya saja, pada beberapa hal, terdapat kelemahan pada diskusi kali ini. Acara diskusi yang mundur dari jadwal yang telah disusun, banyaknya pembicaraan yang keluar dari topik, dan tidak teraturnya sistem tanya-jawab merupakan beberapa hal yang perlu dievaluasi dari kegiatan ini. Dan acara Kajian Online Pertanian Indonesia selesai dan ditutup oleh moderator.

Terlampir: Screencapture obrolan

kanopi-2kanoi-3kanopi-1

Created by : TIM Kajian Strategis  BEM Faperta IPB 2017 bekerja sama dengan Ikatan BEM Pertanian Indonesia (IBEMPI)

NGOPI (Ngobrol Pertanian Indonesia)

NGOPI (Ngobrol Pertanian Indonesia) adalah acara diskusi seru yang mendiskusikan mengenai isu-isu pertanian Indonesia teraktual. NGOPI dilaksanakan oleh Departemen Kajian Strategi BEM Faperta 2016. Acara ngopi diadakan untuk mendiskusikan isu-isu pertanian yang sedang berkembang salah satunya mengenai masalah impor Jagung. Acara ngopi dilaksanakan pada hari kamis, 3 Maret 2016 dimulai pukul 19.20 WIB. Acara ngopi mengahadirkan Dr. Edi Santosa SP, M.si ( Dosen Departemen AGH Faperta IPB) dan menghadirkan moderator Fauzan Azhim ( Menteri Agrikompleks BEM KM IPB). Tema acara ngopi kali ini yaitu mengenai “Impor Jagung, masih perlukah”.
Acara ngopi dihadiri oleh sekitar 57 mahasiswa, baik dari mahasiswa Faperta maupun dari perwakilan dari BEM tiap Fakultas se-IPB seperti FEM, FPIK, Fateta, dan PPKU. Acara Ngopi ( Ngobrol Pertanian Indonesia) diawali dengan pembukaan oleh MC kemudian tilawah , menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pengenalan moderator oleh MC. Pengenalan Moderator ( Fauzan Azhim, Menteri Agrikompleks BEM KM IPB 2016) dengan menampilkan CV. Acara diskusi dibuka oleh Moderator ( Fauzan Azhim) dan kemudian pembicara dipersilahkan untuk menyampaikan materi oleh moderator.

IMG_0688

Acara ngopi dilaksanakan dengan dua sesi yaitu sesi pemaparaan materi oleh Dr. Edi Santosa SP, M.si ( Dosen Departemen AGH FAPERTA IPB ), beliau menyampaikan mengenai kedudukan posisi Indonesia yang berada diurutan ke-8 di dunia sebagai negara yang memproduksi jagung. Sekitar 3.3 juta Ha lahan di Indonesia digunakan untuk memproduksi jagung. Hal ini didukung dengan adanya 12 sentra produksi jagung di 12 provinsi dan 45 kabupaten. Selain itu selama tahun 2015 – januari 2016 untuk produktivitas jagung di Indonesia mengalamai peningkatan meskipun adanya penurunan luas lahan panen. Namun disaat produksi jagung meningkat, Indonesia justru mengimpor jagung yang menyebabkan penurunan harga pada jagung lokal. Sebenarnya pasar jagung impor di Indonesia lebih didominasi oleh jagung peternakan. Menurut data statistik fluktuasi harga jagung sangat tajam dari Rp. 1500 sampai dengan Rp. 10.000 per kg pada Januari 2016. Hal ini dijelaskan oleh Pak Edi Santosa bahwa masih tingginya permintaan pembeli monopolistic terhadap jagung impor , kemudian buruknya sistem tata niaga di Indonesia yang menyebabkan tidak efisiennya pemasaran jagung di Indonesia. Banyaknya sentra produksi menyebabkan susahnya untuk mengumpulkan seluruh produksi di Indonesia, yang tak lain menyebabkan adanya penambahan biaya untuk sistem pemasaran jagung. Kemudian dilihat dari mahalnya jagung lokal daripada jagung impor disebabkan kurangnya sistem logistik yang baik. Menurut Pak Edi Santosa Indonesia akan berhenti mengimpor jika adanaya pengefisiensian tata niaga di Indonesia dan perbaikan sistem logistik.

IMG_0781

Sesi kedua dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diarahkan oleh moderator. Para mahasiswa yang dating turut aktif untuk menanyakan permasalahan Impor jagung di Indonesia , salah satunya yaitu Ikhsan (Mahasiswa IPTP Fapet) yang menanyakan mengenai bagaimana jika harga jagung impor dinaikkan sehingga para peternak beralih menggunakan jagung lokal. Tanggapan dari Pak Edi santosa bahwa aturan WTO sudah menentukan standar impor sehingga tidak boleh ada perbatasan perdagangan. Hal ini dapat disiasati dengan mengurangi konsumen yang monopolistik untuk membeli jagung lokal daripada jagung impor. Pak Edi juga menyampaikan agar Indonesia menjadi negara eksportir bukan menjadi importir jagung.

IMG_0756

Acara ngopi kali ini sangat menambah wawasan para mahasiwa mengenai fakta lapang produksi jagung di Indonesia dan permasalahan impor jagung. Selain itu antusiasme mahasiswa untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jagunng ditunjukkan dengan antusiasme mahasiswa untuk bertanya. Dan acara ngopi ( ngobrol pertanian Indonesia) selesai ditutup dengan moderator.

Penulis : Maya

PKM CLASS ONLINE

PKM adalah Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh DIKTI untuk menjaring inovasi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk diaplikasikan kepada masyarakat. PKM KT sendiri terdiri atas dua jenis, yaitu PKM GT dan PKM AI. Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa IPB khususnya Faperta dalam menghadapi PKM KT yang dideadline pada tanggal 20 Maret ini berdasarkan PKM Center IPB, maka pada hari Selasa, 16 Februari 2016 pukul 20.00 s.d. 23.00 WIB Departemen Akademik dan Prestasi BEM FAPERTA 2016 mengadakan grup diskusi online via Whatsapp tentang PKM KT.
Adapun diskusi ini terdiri atas dua sesi, yaitu sesi pertama dari PKM Center yang diwakili oleh Restu Rahmana Putra, SE (Kak Ari) tentang “All About PKM KT” dan sesi kedua oleh Hendi Okta Kurniawan (Direktur UKM FORCES 2015) tentang “Brainstorming Ide”. Berhubung banyaknya permintaan dari mahasiswa nonFaperta yang ingin mengikuti diskusi ini, akhirnya kami membuka untuk umum grup diskusi online kepada mahasiswa IPB. Alhasil jumlah peserta yang tersaring sebanyak 85 peserta yang terdiri atas 29 departemen dan 4 angkatan. Diskusi dimulai dengan perkenalan dari moderator (Erison Caesar – Kepala Departemen AKPRES BEM Faperta 2016), dilanjutkan dengan penjelasan peraturan diskusi. Setelah kesepakatan terjalin, maka moderator mengundang pembicara masuk ke dalam grup,.
Sesi pertama Kak Ari menjelaskan bahwa PKM GT merupakan penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari gagasan peserta untuk menyelesaikan isu permasalahan yang ada di tengah masyarakat, sedangkan PKM AI adalah penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari kegiatan suatu kelompok, seperti studi kasus, praktek lapang, KKN, PKM, atau magang. Yang perlu diperhatikan adalah format, meskipun ide bagus tetapi format salah maka akan gagal didanai. Waktu pengumpulan proposal sampai saat ini belum ada pengumuman resmi dari DIKTI, namun berdasarkan pengalaman tahun lalu pengumpulan proposal dimulai antara pertengahan Februari hingga Awal Maret. Syarat penting PKM lolos didanai dan masuk pimnas adalah membaca BUKU PANDUAN. Kesalahan fatal yang sering terjadi pada mahasiswa IPB adalah Lembar Pengesahan yang tidak mau direvisi ulang oleh peserta padahal sudah diperiksa oleh tim PKM Center. Program PKM KT tidak dijalankan, ketika berhasil lolos didanai akan mendapatkan insentif 3 juta rupiah. PKM GT yang lolos akan diundang ke PIMNAS, sedangkan PKM KT tidak. Insya Allah tahun ini, pelaksanaan PIMNAS akan diadakan antara di IPB dan UNPAD, oleh karena itu kita harus semangat menjadi saksi sejarah berkumpulnya suksesor dari seluruh Indonesia. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut bisa menghubungi Kak Ari di PKM Center Gedung AHN Lantai 1 setiap jam kerja, atau ke nomor 081363972528.
Sedangkan sesi kedua oleh Kak Hendi banyak membahas tentang motivasi, inspirasi, tips dan trik. Bahwa yang dibutuhkan dalam PKM GT adalah niat, action, passion, terobosan, kreativitas, dan useful. Berdasarkan riset selama 2 tahun terakhir, 35% dari tema PKM yang lolos ke PIMNAS adalah tentang pertanian, baik dari hulu hingga hilir. Kemudian isu kedua adalah tentang sampah, lingkungan, dan kesehatan. Hal lain yang perlu diperhatikan dari PKM GT adalah judul dan kompleksitas. PKM GT bukan PKM yang buat alat saja. PKM GT bukan hal yang berbau teknis saja, dan PKM GT bukan hal yang ajaib dengan desain yang elegan dan mewah. PKM GT adalah sistem yang dapat diterima oleh akademisi, bisnis, pemerintah, dan masyarakat. Banyak membaca, fokus, dan tenang adalah salah satu cara untuk mencari ide. Evaluasi dari suatu penemuan juga termasuk bentuk gagasan tertulis. Benerin niat, semangat, sholat jangan sampai telat, keep on track as young people adalah pesan dari Kak Hendi.
Antusiasme peserta sangat tinggi, terbukti dari jumlah penanya mencapai 20% dari total peserta. Bahkan salah satu peserta diskusi, Abdul Rasyid dari ESL 52 mengatakan bahwa diskusi ini adalah hal yang beliau tunggu-tunggu hingga akhirnya bisa terealisasikan sekarang.

Next Page »