Archive for March 8th, 2016

NGOPI (Ngobrol Pertanian Indonesia)

NGOPI (Ngobrol Pertanian Indonesia) adalah acara diskusi seru yang mendiskusikan mengenai isu-isu pertanian Indonesia teraktual. NGOPI dilaksanakan oleh Departemen Kajian Strategi BEM Faperta 2016. Acara ngopi diadakan untuk mendiskusikan isu-isu pertanian yang sedang berkembang salah satunya mengenai masalah impor Jagung. Acara ngopi dilaksanakan pada hari kamis, 3 Maret 2016 dimulai pukul 19.20 WIB. Acara ngopi mengahadirkan Dr. Edi Santosa SP, M.si ( Dosen Departemen AGH Faperta IPB) dan menghadirkan moderator Fauzan Azhim ( Menteri Agrikompleks BEM KM IPB). Tema acara ngopi kali ini yaitu mengenai “Impor Jagung, masih perlukah”.
Acara ngopi dihadiri oleh sekitar 57 mahasiswa, baik dari mahasiswa Faperta maupun dari perwakilan dari BEM tiap Fakultas se-IPB seperti FEM, FPIK, Fateta, dan PPKU. Acara Ngopi ( Ngobrol Pertanian Indonesia) diawali dengan pembukaan oleh MC kemudian tilawah , menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pengenalan moderator oleh MC. Pengenalan Moderator ( Fauzan Azhim, Menteri Agrikompleks BEM KM IPB 2016) dengan menampilkan CV. Acara diskusi dibuka oleh Moderator ( Fauzan Azhim) dan kemudian pembicara dipersilahkan untuk menyampaikan materi oleh moderator.

IMG_0688

Acara ngopi dilaksanakan dengan dua sesi yaitu sesi pemaparaan materi oleh Dr. Edi Santosa SP, M.si ( Dosen Departemen AGH FAPERTA IPB ), beliau menyampaikan mengenai kedudukan posisi Indonesia yang berada diurutan ke-8 di dunia sebagai negara yang memproduksi jagung. Sekitar 3.3 juta Ha lahan di Indonesia digunakan untuk memproduksi jagung. Hal ini didukung dengan adanya 12 sentra produksi jagung di 12 provinsi dan 45 kabupaten. Selain itu selama tahun 2015 – januari 2016 untuk produktivitas jagung di Indonesia mengalamai peningkatan meskipun adanya penurunan luas lahan panen. Namun disaat produksi jagung meningkat, Indonesia justru mengimpor jagung yang menyebabkan penurunan harga pada jagung lokal. Sebenarnya pasar jagung impor di Indonesia lebih didominasi oleh jagung peternakan. Menurut data statistik fluktuasi harga jagung sangat tajam dari Rp. 1500 sampai dengan Rp. 10.000 per kg pada Januari 2016. Hal ini dijelaskan oleh Pak Edi Santosa bahwa masih tingginya permintaan pembeli monopolistic terhadap jagung impor , kemudian buruknya sistem tata niaga di Indonesia yang menyebabkan tidak efisiennya pemasaran jagung di Indonesia. Banyaknya sentra produksi menyebabkan susahnya untuk mengumpulkan seluruh produksi di Indonesia, yang tak lain menyebabkan adanya penambahan biaya untuk sistem pemasaran jagung. Kemudian dilihat dari mahalnya jagung lokal daripada jagung impor disebabkan kurangnya sistem logistik yang baik. Menurut Pak Edi Santosa Indonesia akan berhenti mengimpor jika adanaya pengefisiensian tata niaga di Indonesia dan perbaikan sistem logistik.

IMG_0781

Sesi kedua dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diarahkan oleh moderator. Para mahasiswa yang dating turut aktif untuk menanyakan permasalahan Impor jagung di Indonesia , salah satunya yaitu Ikhsan (Mahasiswa IPTP Fapet) yang menanyakan mengenai bagaimana jika harga jagung impor dinaikkan sehingga para peternak beralih menggunakan jagung lokal. Tanggapan dari Pak Edi santosa bahwa aturan WTO sudah menentukan standar impor sehingga tidak boleh ada perbatasan perdagangan. Hal ini dapat disiasati dengan mengurangi konsumen yang monopolistik untuk membeli jagung lokal daripada jagung impor. Pak Edi juga menyampaikan agar Indonesia menjadi negara eksportir bukan menjadi importir jagung.

IMG_0756

Acara ngopi kali ini sangat menambah wawasan para mahasiwa mengenai fakta lapang produksi jagung di Indonesia dan permasalahan impor jagung. Selain itu antusiasme mahasiswa untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jagunng ditunjukkan dengan antusiasme mahasiswa untuk bertanya. Dan acara ngopi ( ngobrol pertanian Indonesia) selesai ditutup dengan moderator.

Penulis : Maya